ASSALAMUALAIKUM

Syafi'i Adrad
30 September 1983
Syari'ah Islamiyah
Al-Azhar
Cairo-Mesir



   

<< June 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


picture








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Damba CInta-Mu


Tuhanku
ampunkanlah segala dosaku tuhanku maafkanlah kejahilan hamba-Mu Kusering melanggar larangan-MU Dalam sadar ataupun tidak Kusering meninggalkan suruhan-Mu Walau sadar aku milik-Mu

Bilakah diri ini kan kembali Kepada fitrah sebenar Pagi ku ingat petang ku alfa begitulah silih berganti

Oh tuhanku Kau pimpinlah Diri ini yang mangharap cinta-Mu Aku lemah aku jahil Tanpa bimbingan dari-Mu

Kau pengasih KAu penyanyang Kepada hamba-hamba-Mu Selangkahku Kepada-Mu seribu langkah Kau padaku

Tuhan diri ini tidak layak ke syurga-Mu Tapi diri ini tidak sanggup ke neraka-Mu



ayah Bundaku

Buat ayah bundaku tercinta. tiada kasih yang melebihi dari kasih ibuku. Dengan untaian doanya yg selalu mengalir pada setiap langkahku segala kemurahannya bermula dari tetesan air susunya mengalirlah sungai kasih abadi

ayah yang selalu berjasa untukku kutakkan pernah melupakannya

basah keringatnya yang mengalir di tubuhku demi membasahi panasnya kehidupanku

ayah bundaku darimulah aku mempelajari arti sebuah keikhlasan dan ketulusan walau kulihat wajahmu kian menua namun dari situ tumbuh kekuatanku hanya doa anakmu samapikan semoga Allah memberkahi hidupmu dan menyelamatkanmu di hari kelak


Keluarga Bahagia


Senyuman ibunda Gelak tawa ayahda Senda gurau pengobat duka Kasih yang dicurah iktan terbina Wujudlah keluarga bahagia

Luasnya kasihmu Kepada diriku Umpama lautan membiru Kumohon padaMu Wahai Tuhan yang satu Balas segala bakti mereka Ayah Bundaku

Oh jasamu Ayahku Baktimu Ibuku Berkorban menjalin kejayaan Kuberjanji padamu Oh ayah dn ibu Kukotakan segala hasratmu

Sejernih embun pagi Setulus kasih murni Tiada balasan yang dibentak Keridhaan Allah Keridhaan mereka Kasih mereka bawa ke syurga




 
Friday, June 29, 2007
Tetesan Rindu
Tetesan rindu menghiasi laman hati. Tanda diri ini dambakan dirimu. Menganak air kerinduanku padamu Ibu. Rindu akan cinta kasih sayangmu nan tiada bertepi. Kau titipkan kasih sayang tuk semaikan segala bakti agar tertanam rasa budi selalu terpatri di sanubari ini.

Aku mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa. Bahkan akupun tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan. Namun yakinilah ibuku, engkau adalah sebuah anugerah terindah dari Allah teruntukku dalam menghadapi gejolaknya dunia ini.

Saat dewasa, tapak kaki ini telah kuat menginjak tanah dan tangan pun terkepal ke angkasa. Namun tiadalah kebahagiaan di hati ini, kecuali segalanya bermuara pada senyum tulusmu terhadapku. Sesekali sengaja kucoba tuk menarik perhatianmu terhadapku... Supaya Ibu selalu tersenyum untukku.
Kuingin pulang ke pangkuanmu, bermanja, dan rasa ingin berlari sambil mendekapimu penuh keharuan. Rindu diri ini, terpendam begitu lama dan rasa kehilangan pandangan mata ini terhadap orang yang paling berjasa di dunia ini.
Bertahta keibuanmu di sanubari ini. Bahagiaku bahagiamu, deritaku deritamu, dan deritamu selalu terlihat bahagia di mataku. Ku tak tahu bagaimana nuranimu begitu tulus, dan tak semudah dibayangkan. cita-citaku berada di pertengahan jalan, bersama impian tuk merengkuh harapan. Kejar segala keinginan bersama usaha dan doa. Pantaskan aku tuk melupakanmu walau sejenak? Oh tidak… aku tak sanggup merasakan kesengsaraanmu oleh ulahku yang tidak berkenan di hatimu.

Duhai jiwaku yang selalu lupa dan nestapa, sekiranya engkau sadar bahwa tanpa do'a ibunda, niscaya semua masih angan-angan belaka.
Astaghfirullah... ampuni diri ini ya Allah.

Duhai ibunda...
Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata-kata yang tidak berkenan hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan menghalangi untaian do'a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak menganak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do'a-do'a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.

Duhai ibunda...
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu.
Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku.
Indah... semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

 

Sungguh aku sayang dan rindu Ibu… nantikan kehadiran ananda yang ingin berada di pangkuan dan pelukan Ibu …


Posted at 04:18 pm by s-adrad

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry