ASSALAMUALAIKUM
Syafi'i Adrad 30 September 1983 Syari'ah Islamiyah Al-Azhar Cairo-Mesir
picture
Damba CInta-Mu
Tuhanku
ampunkanlah segala dosaku
tuhanku maafkanlah kejahilan hamba-Mu
Kusering melanggar larangan-MU
Dalam sadar ataupun tidak
Kusering meninggalkan suruhan-Mu
Walau sadar aku milik-Mu
Bilakah diri ini kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi ku ingat petang ku alfa
begitulah silih berganti
Oh tuhanku Kau pimpinlah
Diri ini yang mangharap cinta-Mu
Aku lemah aku jahil
Tanpa bimbingan dari-Mu
Kau pengasih KAu penyanyang
Kepada hamba-hamba-Mu
Selangkahku Kepada-Mu
seribu langkah Kau padaku
Tuhan diri ini tidak layak ke syurga-Mu
Tapi diri ini tidak sanggup ke neraka-Mu
ayah Bundaku
Buat ayah bundaku tercinta.
tiada kasih yang melebihi dari kasih ibuku.
Dengan untaian doanya yg selalu mengalir pada setiap langkahku
segala kemurahannya bermula dari tetesan air susunya
mengalirlah sungai kasih abadi
ayah yang selalu berjasa untukku
kutakkan pernah melupakannya
basah keringatnya yang mengalir di tubuhku
demi membasahi panasnya kehidupanku
ayah bundaku
darimulah aku mempelajari arti
sebuah keikhlasan dan ketulusan
walau kulihat wajahmu kian menua
namun dari situ tumbuh kekuatanku
hanya doa anakmu samapikan
semoga Allah memberkahi hidupmu
dan menyelamatkanmu di hari kelak
Keluarga Bahagia
Senyuman ibunda
Gelak tawa ayahda
Senda gurau pengobat duka
Kasih yang dicurah iktan terbina
Wujudlah keluarga bahagia
Luasnya kasihmu
Kepada diriku
Umpama lautan membiru
Kumohon padaMu
Wahai Tuhan yang satu
Balas segala bakti mereka
Ayah Bundaku
Oh jasamu Ayahku
Baktimu Ibuku
Berkorban menjalin kejayaan
Kuberjanji padamu
Oh ayah dn ibu
Kukotakan segala hasratmu
Sejernih embun pagi
Setulus kasih murni
Tiada balasan yang dibentak
Keridhaan Allah
Keridhaan mereka
Kasih mereka bawa ke syurga
|
|
 |
| |
Thursday, September 30, 2004 |
Semangat kegigihan Rasulullah SAW
Oleh: Syafi'i Adrad
Abbas el-Aqad, 29 Agustus 2003
Pada malam rabu tanggal 10 Syawal, pasukan Islam tiba di Hunain. Sementara itu Pemimpin kaum kuffar Malik bin Auf dan bala tentaranya lebih dahulu tiba di sana. Dia memencarkan pasukan dan menempatkan mereka disetiap jalan masuk, di celah-celah bukit dan celukan yang tersembunyi. Dia memerintahkan menyerang pasukan muslimin selagi sudah tampak, lalu semuanya sudah siap dengan serentak.
Menjelang subuh Rasulullah saw mempersiapkan pasukan, menyerahkan dan membagi-bagi tugas diantara mereka. Saat itulah pasukan muslimin mendapat serangan secara mendadak oleh pasukan pemanah dari kaum kuffar, hingga membuat mereka mundur ke belakang, lari kocar-kacir, seorangpun dari mereka tidak mempedulikan lagi temannya. Inilah suatu kekalahan yang sulit dipercaya, karena mereka menganggap akan menang. Sebab jumlah tentara muslimin saat itu mencapai dua belas ribu orang. Sementara itu pasukan musuh menurut Abu Hadrad seorang intel Rasulullah kala itu mengatakan, kebanyakan di antara mereka kaun wanita dan anak-anak,. Karena Malik bin Auf ingin melibatkan seluruh kabilahnya untuk berperang.
Peperanganpun masih memanas, disaat itu pula waktu yang sangat keritis yang dialami Rasulullah saw sambil berbelok ke arah ke kanan lalu berseru, "kemarilah wahai orang semua, aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammah bin Abdullah." Namun mereka tidak mempedulikan lagi. Yang ada di benak mereka adalah keinginan untuk melarikan diri. Sehingga yang menyisa di tempat beliau hanya beberapa orang muhajirin dan sanak keluarga beliau.
Pada saat itulah tampak betapa hebat keberanian Rasulullah saw yang tiada tandingan. Salah seorang di samping beliau yang setia adalah paman beliau, Al-Abbas sambil memegang pelana bughal Rasulullah saw. Dan Rasulullah saw pun memacu bughalnya ke arah musuh sambil berkata:" Akulah seorang Nabi dan bukan dusta. Akulah keturunan Abdul Muthalib." Lalu beliau turun dari punggung bughal sambil berdo'a:" Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu."
Seketika itu Rasulullah saw memerintah salah seorang yang paling dekat dikala itu, yaitu Al-Abbas untuk menyeru kepada kaum muslimin, lagipun beliau dikenal sebagai seorang yang paling lantang suaranya diantara sahabat Rasulullah saw. Al-Abbas menuturkan," akupun bertetiak denga suara sekeras-kerasnya. Manakah orang-orang yang berikrar di bawah pohon?"
Al-Abbas kembali menuturkan, "demi Allah, seakan-akan perasaan mereka saat mendengar teriakanku ini seperti perasaan seekor induk sapi terhadap anaknya."
Mereka menyahut, "kami mendengar seruanmu, kami mendengar seruanmu."
Sehingga akhirnya mereka mendekati Rasulullah saw, sambil melancarkan serangan, lalu rasulullah saw berkata,"disinilah serangan berkobar." Segenggam pasir Beliau lemparkan ke arah kaum kafir, sehingga tidak seorangpun diantara mereka, yang kena semburan pasir melainkan tidak bisa melihat dengan jelas. Tak seberapa lama Beliau melempar pasir, musuhpun mengalami kekalahan secara telak. Dengan kekalahan tersebut kaum muslimin mendapat harta rampasan yang cukup banyak.
Sebagai tahapan-tahapan cerita di atas , Allah swt telah mengisyaratkan dalam firman-Nya : "Dan ingatlah peperangan hunain, yaitu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah banyak itu tidak memberi manfaat bagi kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai berai. Kemudian Allah menurunkan rasa ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman. Dan Allah menurunkan bala tentara-Nya yang kalian tidak melihatnya, dan Allah menimpa bencana kepada orang-orang kafir, dan demikian pula pembalasan kepada orang-orang kafir." ( Q. S At-Taubah : 25-26).
Wallahu 'alam
Kutipan, Rasul Qudwatuna (Hatta Ya'lamu Syabaab)
Dan Sirah Nabawiyah, Syaikh Safiyul-Rahman Al-Mubarakfury.
Posted at 12:56 am by s-adrad
|