|
Bak ungkapan penyair mengatakan, "dirimu bagaikan sesuci dan sebening embun dan cahaya berseri bagai tersinar mentari pagi". Kata pujangga, embun diumpamakan dengan kesejukan dan kesegaran, embun juga diibaratkan dengan kesucian dan kebeningan. Sejenak, perlu direnungi dan dibayangkan pula bahwa pada setiap pagi kita bisa menikmati suasana begitu hampir tak tersembunyi. Dikala pagi menyingsing mentari, dikala embun turun membasahi ruas-ruas dedaunan, dikala itu pula kesejukan hadir bersama menghiasi suasana dengan penuh pesona. Begitulah embun bermunculan setelah melewati kelamnya kegelapan malam yang panjang. Melewati titik hitam dari kesunyian malam hingga hadir sang surya yang senantiasa ceria menemani keindahan pagi. Bersamaan dengan itu pula embun hadir turut menyegarkan suasana yang berawal dari sebuah keindahan, kebaikan, ketenangan, kesegaran, dan kenyamanan dapat dilukis dengan sangat dinamis dan harmonis. Disamping itu juga pada hakikatnya suasana itu sendiri pulalah yang bisa mengantarkan kepada sebuah perubahan. Tidakkah kita melihat embun begitu indah pagi kemaren, pagi ini dan bahkan pagi esok maupun lusa? Bahkan jarang sekali kita menikmati suasana pagi yang sudah cukup memberi kedamaian untuk menemani awal dari segala aktivitas keseharian kita. Tiadalah ternoda bagi embun yang turun berjatuhan ke bumi. Ia sungguh suci dan turut menabur bakti bagi keindahan bumi. Ia hadir dari atas langit dan turun merelakan diri untuk membasahi bumi waktu pagi. Bahkan debu-debu malampun disapu dan dibasahi oleh titisan embun. Mengantarkan awalnya hari dengan kesucian dan kesegaran. Dengan demikian bumi begitu terasa menawan dan kelihatan terpelihara kembali muda. Embun… Manusia yang senantiasa dari masa kemasa berkelana bersama dilema kehidupan. Romantika kehidupanpun telah terlukiskan di benak dan di hati setiap insan. Begitu pula dengan embun, sebuah inspirasi bagi manusia untuk berpikir sejenak akan hal berkaitan antara diri manusia sendiri dengannya. Namun embun itu sendiri adalah kepunyaan hari dan bumi, yang selalu menghiasi perjalanan masa yang dilewati bumi. Di samping itu, bagi manusia embun adalah perumpamaan dari air mata. Air mata hadir namakala manusia melewati berbagai keadaan. Adakalanya manusia dirundung Air mata itulah sebuah inspirasi bagi manusia. Membuat keadaan kepada perubahan bagi manusia. Menciptakan rasa ingin mendambakan kebaikan dan selalu berkekalan dengannya. Dikala susah dan duka manusia mendambakan kebaikan bersama deraian air mata. Dikala senang dan bahagiapun manusia meneteskan air mata ingin berkekalan dengan kebaikan tetap bersamanya. Perjalanan kehidupan manusia kadang melewati fase penyesalan setelah melewati kelamnya kehidupan. Berakhir dengan tetesan air mata penyesalan petanda keinsafan. Air mata adalah sumber inspirasi sebuah penyesalan dan pengakuan dosa seorang hamba. Linangan air mata juga petanda sebuah ketidak-mampuan seorang hamba ke hadapanNya. Sebesar apa deraian air mata sebesar itu pulalah keinsafan yang hadir pada dirinya. Namun di samping itu pula, tetesan air mata juga bertolak belakang dengan bentuk ujud fatamorgana. Dipandang dari kejauahan umpakan air pelepas dahaga kehausan, yang dikejar tiadakan dapat diperolehi. Begitulah ibaratnya kehidupan seseorang yang giat mengejar dunia, tampak menyenangkan dan mempesona. Sungguh selalu dikejar akan membuat diri akan serasa penat dan melelahkan. Begitulah kiranya mengejar kemewahan tanpa memperhatikan etika kehidupan yang baik. Namun sebaliknya, bagi seorang insan yang senantiasa hendak mengejar kehidupan yang lebih nyaman dan bahagia perlu ia perhatikan dan berusaha untuk selalu mencermati dari kealamian sifat embun itu tadi. Yang mana kealamian tersebut adalah kesejukan. Dengan suasana penuh kesejukan maka akan terlihat keasriannya, dan akan lebih tampak berseri dengan dipancari oleh sinaran di ufuk pagi. |
| Leave a Comment: |