|
Tetesan rindu menghiasi laman hati. Tanda diri ini dambakan dirimu. Menganak air kerinduanku padamu Ibu. Rindu akan cinta kasih sayangmu nan tiada bertepi. Kau titipkan kasih sayang tuk semaikan segala bakti agar tertanam rasa budi selalu terpatri di sanubari ini. Aku mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa. Bahkan akupun tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan. Namun yakinilah ibuku, engkau adalah sebuah anugerah terindah dari Allah teruntukku dalam menghadapi gejolaknya dunia ini.
Saat dewasa, tapak kaki ini telah kuat menginjak tanah dan tangan pun terkepal ke angkasa. Namun tiadalah kebahagiaan di hati ini, kecuali segalanya bermuara pada senyum tulusmu terhadapku. Sesekali sengaja kucoba tuk menarik perhatianmu terhadapku... Supaya Ibu selalu tersenyum untukku. Kuingin pulang ke pangkuanmu, bermanja, dan rasa ingin berlari sambil mendekapimu penuh keharuan. Rindu diri ini, terpendam begitu lama dan rasa kehilangan pandangan mata ini terhadap orang yang paling berjasa di dunia ini. Bertahta keibuanmu di sanubari ini. Bahagiaku bahagiamu, deritaku deritamu, dan deritamu selalu terlihat bahagia di mataku. Ku tak tahu bagaimana nuranimu begitu tulus, dan tak semudah dibayangkan. cita-citaku berada di pertengahan jalan, bersama impian tuk merengkuh harapan. Kejar segala keinginan bersama usaha dan doa. Pantaskan aku tuk melupakanmu walau sejenak? Oh tidak… aku tak sanggup merasakan kesengsaraanmu oleh ulahku yang tidak berkenan di hatimu.
Duhai jiwaku yang selalu lupa dan nestapa, sekiranya engkau sadar bahwa tanpa do'a ibunda, niscaya semua masih angan-angan belaka. Astaghfirullah... ampuni diri ini ya Allah.
Duhai ibunda... Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata-kata yang tidak berkenan hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan menghalangi untaian do'a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.
Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak menganak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do'a-do'a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.
Duhai ibunda... Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu. Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku. Indah... semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu. Sungguh aku sayang dan rindu Ibu… nantikan kehadiran ananda yang ingin berada di pangkuan dan pelukan Ibu …
|